Awal perkenalanku dengan Mie Ayam Jakarta terjadi pada tahun 80an. Ketika itu aku diajak oleh teman baru dari kota lain untuk menikmati Mie Ayam terlezat di Jogjakarta. Letaknya di sebelah selatan bioskop Rahajoe (Rahayu) dan ketika aku akhirnya ke warung mie itu memang ramai banget pembelinya. Bahkan ketika salah satu peserta sharing bisnis Mie Ayam Sehati dari Jogjakarta ditanyai tentang kenapa ikut pelatihan Mie Ayam denga menempuh jarak yang begitu jauh, maka jawabnya singkat dan padat, “ Mie Ayam Jakarta sangat laris di Jogja!”.
Setelah tahun 80an, aku mulai merantau dan jarang bertemu dengan Mie Ayam Jakarta lagi. Kalaupun bertemu aku lebih suka memilih menu lain, bila ada. Kayaknya rasa Mie Ayam ya akan begitu-begitu saja. Bahkan kemudian aku malah dapat hobi kuliner baru, yaitu makan mie Aceh yang penuh dengan rempah-rempah. Kalau sudah bicara “titi Bobrok” di Medan, maka air liurpun tiba-tiba secara otomatis sudah langsung pingin keluar saja.
Ketika pindah ke Surabaya pada tahun 2000-an, aku malah rajin mencari Mie Medan yang biasanya bedimensi gedhe-gedhe dan rasanya beda banget dengan mie Jawa yang sedari kecil suka kunikmati karena di depanku ada penjual mie yang laris manis, itulah bakmi Pak Tris Kemetiran Kidul Jogja.
Kalau sudah makan mie, maka nasi sudah tak termakan lagi. Apalagi kalau ketemu Mie Aceh atau Mie Medan, rasanya porsinya terlalu besar untuk ukuran perutku. Meski begitu, dengan penuh perjuangan biasanya aku habiskan juga mie itu. Akibatnya bisa diduga, selalu saja aku jadi kelelahan karena kekenyangan. Berdiri saja sudah jadi malas. Begitulah karma dari orang serakah.
Pindah lagi ke Jakarta, aku malah bertemu dengan Mie Jawa yang rasanya memang sudah tidak bisa dicuri lagi. Biarpun harga seporsi sepuluh ribu di Cikarang, aku tetap mengejarnya. Temanku bilang kalau harga mie jawa biasanya kemahalan, karena dengan nambah duit sedikit lagi, maka kita sudah bisa mendapatkan Mie Aceh dengan porsi yang bisa dua kali lipat atau lebih. Aku suka tertawa mendengar gurauan temanku ini.
Nasib jugalah yang mempertemukan aku dengan master Mie Perto yang saat itu belum menjadi anggota komunitas Tangan Di Atas. Dengan kenekadan yang luar biasa, pak Syamsu Irman, master Mie Perto mendatangi acara mastermind Cikarang 2 yang diikuti oleh istriku dan aku kebagian nganter istriku sekalian sharing tentang dunia blog di acara mastermind 2 itu.
Pada acara itulah aku pertama kali memakan mie ayam hasil olahan dari salah satu anggota Perto group. Rasanya memang enak, tetapi tetap hanya terasa seperti rasa mie standard saja. Belum terasa bedanya mie ayam Perto group dengan mie lain yang pernah kumakan. Tidak ada yang bisa diunggulkan dari mie ini.
Seperti dapat membaca pikiranku, pak Syamsu langsung berkata, “Mie ini dibuat tadi pagi dan harusnya sudah dihidangkan sejak tadi, tapi karena semua asyik berbagi saran dan ide, maka mie ini jadi terlupakan. Kapan-kapan kita makan mie yang kita buat sendiri saja”
Aku langsung menangkap peluang ini. Kukompori saja para anggota Mastermind Ciakrang 2 (MMC2) ini untuk mencoba berlatih bagaimana caranya membuat mie dan sekaligus bagaimana berjualan mie ayam Perto Group. Ketua MMC 2 begitu antusias mengikuti kompor yang kupasang dan akhirnya keluar dari pekerjaannya dan mendirikan Mie Ayam KCB. Sungguh pesona Mie Perto Group ini sangat luar biasa. Ada juga yang baru berlatih beberapa hari, tapi langsung nekad mencari kios dan mendirikan gerai baru Mi Ayam Jawara – Sehati | Perto Group.

Sampai beberapa kali mengikuti pelatihan Mie Ayam yang diadakan oleh pak Syamsu, aku masih terkesan dengan caranya mengajar. Selalu tampil apa adanya, tanpa beban dan selalu memebrikan pencerahan tentang dunia, tidak hanya sekedar pencerahan tentang ilmu Mie Ayam. Pak Syamsu adalah master sejati yang mampu memberikan pelatihan Mie tetapi dengan aroma kehidupan dunia akhirat yang sangat kental.
Coba simak jawaban yang diberikan ketika salah satu peserta bertanya tentang keuntungan pak Syamsu dengan berbagi ilmu mie ini, karena ditinjau dari berbagai sudut terasa sekali tidak banyak keuntungan materi yang didapat oleh pak Syamsu.
“Dengan bertemu seperti ini, maka kita akan dapat banyak saudara. Sekarang saya jadi kenal dengan ibu dan Allah akan memudahkan hambaNya yang senang memudahkan urusan hambanya yang lain”
Sebuah kalimat indah yang membuat sang penanya sampai terkagum-kagum mendengarnya dan akhirnya menyampaikan kekagumannya padaku.
“Kalimat pak Syamsu dalem banget pak. Merinding saya mendengarnya”, begitu ucap ibu itu padaku.
Ibu itu datang terlambat di pelatihan dan dia ternyata masih mampu menangkap esensi dibalik apa yang diucapkan oleh pak Syamsu.

Mengikuti beberapa pelatihan pak Syamsu dan mempublikasikan hasil pelatihannya, membuat aku makin dekat dengan pak Syamsu dan makin yakin bahwa apa yang diucapkan pak Syamsu adalah sesuatu hal yang benar-benar keluar dari lubuk hatinya.
Jarak Karawang, tempat tinggal pak Syamsu, jadi terasa dekat dengan kota Semarang, Jogja, Malang, Sidoarjo maupun Surabaya. Sementara aku sendiri merasa Jakarta Barat begitu jauh dari Jakarta Timur. Bahkan Bekasipun terasa jauh dari Cikarang.
Pak Syamsu begitu “mobile”, semua daerah yang mebutuhkannya selalu didatanginya, sepanjang jadwalnya tidak berbenturan dengan acara MMC2, acara keluarga atau acara yang diatur oleh Mie Ayam Sehati.
“Pokoknya setiap ada acara pelatihan selalu saya arahkan untuk melakukankonfirmasi ke Ibu Yeni di 0888308 7532. Semua ini agar pelatihan bisa diadakan dengan baik dan optimal. Instruktur bisa saya sendiri atau Ibu Yeni, kadang instruktur bisa berdua kalau pesertanya melebihi kuota”.
Sekali aku pernah mengawani pak Syamsu mengadakan pelatihan di Sidoarjo. Kujemput pak Syamsu di terminal bis Surabaya dan kita langsung meluncur ke Mojokerto. Tak ada raut muka capai di wajah pak Syamsu, yang ada hanya semangat berbagi yang begitu kental di setiap ucapannya.
Aku jadi banyak belajar pada pak Syamsu. Belajar banyak tentang kehidupan yang selalu muncul di setiap kalimat pak Syamsu saat dia berbagi dengan peserta pelatihan mie Perto Group. Anehnya dimana-mana pak Syamsu ini justru mengenalkan aku sebagai salah satu mentornya.
Mungkin memang begitulah dunia ini. Dia hanya menampakkan sisi yang bisa dilihat langsung dan sering menyembunyikan sisi lain yang merupakan sisi hikmah dari dunia ini.



Posted on Agustus 19, 2010 by Eko Sutrisno HP
0